Selamat Datang di Website Resmi KOHANUDNAS Labda Prakasa Nirwikara KOHANUDNAS SIAGA SENANTIASA SELAMAT BERTUGAS DAN TETAP SEMANGAT MENJAGA NKRI

“Jika orang lain bisa, saya juga bisa, mengapa pemuda-pemuda kita tidak bisa jika memang mau berjuang.”

by Jendral Sudirman

“Kelemahan terbesar kita adalah menyerah. Cara paling pasti untuk dapat meraih kesuksesan adalah dengan selalu mencoba sekali lagi.”

by Thomas A Edison

Disiplin, Militansi, Semangat Nasionalisme, Patriotisme dan Nilai-Nilai Luhur Bangsa Menuju Indonesia Yang Merdeka, Bersatu, Berdaulat, Adil Dan Makmur Perlu Lebih Ditingkatkan

by Panglima TNI Jendral Moeldoko

In order to succeed you must fail, so that you know what not to do the next time. Agar bisa berhasil, terkadang Anda musti gagal dulu, sehingga Anda tahu apa yang tidak boleh dilakukan di waktu berikutnya.

by Anthony J. D’Angelo

Pengunjung Aktif : 18

Pengunjung Hari Ini : 46

Sejarah Terbentuknya KOHANUDNAS
PROFIL KOHANUDNAS 01 September 2014

Sejarah Pembentukan Kohanudnas

      Pembentukan Kohanudnas, pertumbuhan dan perkembangannya tidak terlepas dari perkembangan TNI Angkatan Udara.  Pembentukan ini dilakukan karena Pimpinan Kohanud  Angkatan, Kohanudgab dan Menpangau merasakan betapa pentingnya suatu pengendalian tunggal dari operasi pertahanan udara.

       Pada tahun 1958 dibentuk  Sektor Operation Center (SOC) dengan unsur kekuatan Arhanud Angkatan Darat, Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP), Pasukan Penangkis Serangan Udara ( PPSU), pesawat Mustang dan pesawat Jet Vampire.    Tahun 1961 dibentuk Komando Pertahanan Udara Gabungan (Kohanudgab) yang terdiri dari tiga Angkatan dan Polri.  Tujuannya untuk melindungi pusat offensif daerah Mandala Yudha di Wilayah Timur Indonesia.

       Mengingat betapa pentingnya Komando pengendalian tunggal dalam operasi pertahanan udara,  pada tanggal 9 Februari 1962 Presiden selaku Panglima Tertinggi atas Angkatan Perang RI, mengeluarkan Kepres Nomor : 8/PLM-PS Tahun 1962 tentang pembentukan Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas), dan tanggal tersebut ditetapkan menjadi Hari Jadi Kohanudnas. 

 Lahirnya Angkatan Udara di Indonesia

           Embrio Angkatan Udara Hindia Belanda bernama Proefvliegavdeling (PVA) berdiri pada tanggal 21 Juli 1918.   Pasca Perang Dunia ,    Agustus 1921, PVA mendirikan sebuah escadrille (skadron) di Soekamiskin  Jawa Barat dengan kekuatan  enam pesawat.   Ini merupakan skadron pesawat pertama yang pernah ada di Indonesia.   Jenis pesawat yang digunakan adalah De Havilland dan Fokker D-VII, dan  Kapten Stom menjabat sebagai Komandan.  

         Pada tanggal 31 Maret 1939,    Belanda membentuk Angkatan Udara dengan nama Militaire Luchtvaart.   Tanggal 1 September 1939,  Jerman melakukan invasi ke Polandia dan ditandai dengan  dimulainya Perang Dunia II.   Hal ini membuat Belanda takut menghadapi perang, dan ketika itu pula Jepang semakin mengancam di Hindia Belanda (Indonesia).    Kemudian Belandapun mulai membangun pangkalan-pangkalan udara dengan segala fasilitasnya serta melatih para pemuda Indonesia untuk menjadi penerbang.      Tentunya ini menjadi  keuntungan bagi bangsa Indonesia, karena, Indonesia telah memiliki penerbang-penerbang muda yang mampu  menerbangkan pesawat-pesawat peninggalan penjajah.

     Pada saat AURI lahir pada tanggal 9 April 1946,  hanya  bermodalkan pesawat-pesawat “non-flyable”  peninggalan Jepang.  Dengan berbekal semangat pantang menyerah, para prajurit AURI berusaha mengoperasikan pangkalan-pangkalan udara yang ada dan memperbaiki sistem komunikasi serta alutsistanya untuk  dapat digunakan dalam  menghadapi pasukan Belanda yang sewaktu-waktu bisa datang.  

     Pada umumnya di masa perang kemerdekaan, unsur-unsur pertahanan udara milik TNI masih merupakan bagian dari kesatuan infantri ataupun kesatuan pertahanan pangkalan.  Senjata yang dimiliki  terbatas pada senjata PSU (Penangkis Serangan Udara) peninggalan tentara Jepang dan Belanda.  Peran rakyat saat  itu sebagai unsur pertahanan sipil di bidang pertahanan udara, antara lain bertindak sebagai“People Warning” (Early Warning) dan membantu penyelenggaraan perlindungan masyarakat terhadap bahaya udara.

 


Sejarah Pembentukan Kohanudnas


         Pembentukan Kohanudnas, pertumbuhan dan perkembangannya tidak terlepas dari perkembangan TNI Angkatan Udara.  Pembentukan ini dilakukan karena Pimpinan Kohanud  Angkatan, Kohanudgab dan Menpangau merasakan betapa pentingnya suatu pengendalian tunggal dari operasi pertahanan udara.

          Pada tahun 1958 dibentuk  Sektor Operation Center (SOC) dengan unsur kekuatan Arhanud Angkatan Darat, Pasukan Pertahanan Pangkalan (PPP), Pasukan Penangkis Serangan Udara ( PPSU),  pesawat Mustang dan pesawat Jet Vampire.    Tahun 1961 dibentuk Komando Pertahanan Udara Gabungan (Kohanudgab) yang terdiri dari tiga Angkatan dan Polri.  Tujuannya untuk melindungi pusat offensif daerah Mandala Yudha di Wilayah Timur Indonesia.

       Mengingat betapa pentingnya Komando pengendalian tunggal dalam operasi pertahanan udara,  pada tanggal 9 Februari 1962 Presiden selaku Panglima Tertinggi atas Angkatan Perang RI, mengeluarkan Kepres Nomor : 8/PLM-PS Tahun 1962 tentang pembentukan Komando Pertahanan Udara Nasional (Kohanudnas), dan tanggal tersebut ditetapkan menjadi Hari Jadi Kohanudnas.

Lahirnya Angkatan Udara di Indonesia

         Embrio Angkatan Udara Hindia Belanda bernama Proefvliegavdeling (PVA) berdiri pada tanggal 21 Juli 1918.   Pasca Perang Dunia ,    Agustus 1921, PVA mendirikan sebuah escadrille (skadron) di Soekamiskin  Jawa Barat dengan kekuatan  enam pesawat.   Ini merupakan skadron pesawat pertama yang pernah ada di Indonesia.   Jenis pesawat yang digunakan adalah De Havilland dan Fokker D-VII, dan  Kapten Stom menjabat sebagai Komandan.  

        Pada tanggal 31 Maret 1939,    Belanda membentuk Angkatan Udara dengan nama Militaire Luchtvaart.   Tanggal 1 September 1939,  Jerman melakukan invasi ke Polandia dan ditandai dengan  dimulainya Perang Dunia II.   Hal ini membuat Belanda takut menghadapi perang, dan ketika itu pula Jepang semakin mengancam di Hindia Belanda (Indonesia).    Kemudian Belandapun mulai membangun pangkalan-pangkalan udara dengan segala fasilitasnya serta melatih para pemuda Indonesia untuk menjadi penerbang.      Tentunya ini menjadi  keuntungan bagi bangsa Indonesia, karena, Indonesia telah memiliki penerbang-penerbang muda yang mampu  menerbangkan pesawat-pesawat peninggalan penjajah.

       Pada saat AURI lahir pada tanggal 9 April 1946,  hanya  bermodalkan pesawat-pesawat “non-flyable”  peninggalan Jepang.  Dengan berbekal semangat pantang menyerah, para prajurit AURI berusaha mengoperasikan pangkalan-pangkalan udara yang ada dan memperbaiki sistem komunikasi serta alutsistanya untuk  dapat digunakan dalam  menghadapi pasukan Belanda yang sewaktu-waktu bisa datang.  

      Pada umumnya di masa perang kemerdekaan, unsur-unsur pertahanan udara milik TNI masih merupakan bagian dari kesatuan infantri ataupun kesatuan pertahanan pangkalan.  Senjata yang dimiliki  terbatas pada senjata PSU (Penangkis Serangan Udara) peninggalan tentara Jepang dan Belanda.  Peran rakyat saat  itu sebagai unsur pertahanan sipil di bidang pertahanan udara, antara lain bertindak sebagai“People Warning” (Early Warning) dan membantu penyelenggaraan perlindungan masyarakat terhadap bahaya udara.

      Ketika kemerdekaan  Indonesia diproklamasikan,  negara belum memiliki pesawat terbang,  semua pesawat yang ada di Indonesia masih dikuasai atau dimiliki oleh Jepang maupun Belanda.   Pada tanggal 5 Oktober 1945, terjadi perubahan organisasi Angkatan Bersenjata, Badan Keamanan Rakyat (BKR) berubah nama menjadi Tentara Keamanan Rakyat (TKR). Otomatis terjadi juga perubahan BKR Udara menjadi TKR Udara, yang lazimnya dikenal dengan TKR Djawatan Penerbangan. Dengan adanya perubahan ini,  TKR jawatan penerbanganpun mulai membuat perencanaan baru, termasuk di dalamnya adalah usulan untuk membentuk sekolah penerbang.

      Mengingat begitu mendesaknya kebutuhan penerbang, pada tanggal 15 November 1945,  A. Adisutjipto mendapat tugas untuk mendirikan sekolah penerbang di  Pangkalan Udara Maguwo  Yogyakarta.   A. Adisutjipto pernah mendapatkan pendidikan  penerbang di Sekolah Penerbang Belanda Militaire Luchtvaart School  Kalijati, bahkan pernah menjadi penerbang militer Belanda dengan pangkat Letnan Adjudan.  Selain  A. Adisutdjipto,  Letnan Sambudjo Hurip juga  mengikuti pendidikan Sekolah Penerbang Belanda, dan memiliki  kemampuan setara dengan Adisutjipto,  namun gugur di daerah Selat Malaka dengan pesawat B-10 ketika  diserang pesawat “zero” Jepang.   Dengan gugurnya Letnan Sambudjo Hurip, maka harapan  satu-satunya adalah  pada Adisujipto.

      Sekolah penerbang yang dipimpin A. Adisutjipto diberi nama Sekolah Penerbang Maguwo.   Siswa-siswanya terdiri dari penerbang-penerbang yang telah memiliki “Klein Brevel” ataupun calon-calon penerbang baik dari Militaire Luchtvaart (ML), Marine Luchtvaart Dienst (MLD) maupun Vrijiwillig Vliger Corps (VVC) serta pemuda-pemuda yang belum pernah mendapat pendidikan penerbang. Sekolah penerbang pertama di Indonesia yang dikelola oleh putra bangsa Indonesia ini memiliki  fasilitas dan  peralatan yang  serba terbatas. Sekolah ini juga merupakan lembaga pendidikan pertama yang dimiliki AURI,  sehingga setiap tanggal 15 November diperingati sebagai Hari Jadi Kodikau.

      Dengan keberhasilan para perintis AURI mendidik sejumlah pemuda Indonesia untuk menjadi penerbang, maka kekuatan AURI semakin berkembang dan kegiatan penerbangan juga semakin dinamis.  Kemudian dengan diresmikannya AURI sebagai salah satu Angkatan Bersenjata Republik Indonesia pada tanggal 9 April 1946,  semakin mendorong Pimpinan Angkatan Udara kearah penyempurnaan organisasi.  Memang ada persoalan yang cukup pelik ketika  mempersatukan TRI Penerbangan di daerah-daerah. Namun berkat  ketekunan Pimpinan AURI, akhirnya TRI penerbangan dapat dipersatukan.  Kemudian diangkatlah Komodor Udara Surjadi Suryadarma menjadi Kepala Staf Angkatan Udara yang berkedudukan  di Yogyakarta.

      Dengan adanya pendidikan sekolah penerbang, maka para kadet penerbang mulai menerbangkan pesawat-pesawat  tua peninggalan Jepang.      Tiga dari sejumlah siswa sekolah penerbang yang dirintis Adisutjipto - Yogyakarta, pada tanggal 29 Juli 1947 mengukir sejarah dengan melaksanakan pengeboman di atas kota Ambarawa, Salatiga dan Semarang. Tiga siswa tersebut adalah Kadet Penerbang Sutarjo Sigit dibantu penembak Sutarjo, Kadet Suharnoko Harbani dibantu penembak udara Kaput, serta Kadet Penerbang Muljono dibantu penembak udara Dulrahman. Dengan dua pesawat Cureng buatan Jepang tahun 1933 dan satu pesawat Guntai, para penerbang tersebut melakukan serangan udara ketiga kota yang diduduki Belanda, yaitu Semarang, Ambarawa dan Salatiga.  Serangan udara ini merupakan serangan udara pertama yang dilakukan oleh pejuang Indonesia di daerah yang dikuasai musuh.

      Namun keberhasilan tiga putra Indonesia di pagi hari itu, harus ditebus dengan mahal,  karena sore harinya pesawat Dakota VT-CLA yang membawa obat-obatan sumbangan Palang Merah Malaya untuk Palang Merah Indonesia dan sedang persiapan mendarat di Maguwo ditembak jatuh oleh pesawat pemburu Belanda P-40 Kitty Hawk yang berpangkalan di Kalibanteng - Semarang. Pesawat jatuh di dusun Ngoto sebelah Barat Maguwo. Tiga perintis Angkatan Udara yang berada dalam pesawat Dakota tersebut yaitu A. Adisutjipto, Abdulrahman Saleh dan Adi Sumarmo ikut gugur, dan peristiwa bersejarah tanggal 29 Juli 1947 diperingati sebagai Hari Bhakti Angkatan Udara.

     Kemudian penerbangan semakin eksis dengan mulai melaksanakan penerbangan keluar negeri, dengan harus menembus blokade udara Belanda.   Peristiwa heroik menembus blokade musuh dilakukan untuk mendapatkan pengakuan secara de jure dari dunia internasional, karena bila pesawat kita berhasil atau diijinkan mendarat disuatu negara, maka secara otomatis negara tersebut mengakui keberadaan negara Indonesia merdeka.   Namun Belanda tidak tinggal diam, dengan berusaha terus menyerang pesawat-pesawat Indonesia yang terbang, namun tetap pesawat Indonesia  berhasil lolos terbang ke luar negeri.

       Tahun 1947, dua lagi peristiwa penting bagi perjuangan bangsa Indonesia yaitu operasi militer pertama kali yang dilakukan oleh AURI di kota Waringin Kalimantan pada tanggal 17 Oktober 1947, serta jatuhnya pesawat AURI di Tanjung Hantu - Malaysia yang mengakibatkan gugurnya Iswahjudi dan Halim Perdanakusuma. Peristiwa pertama diangkat sebagai Hari Jadi Paskhasau, yang dulu bernama PGT (Pasukan Gerak Tjepat) dan Kopasgat (Komando Pasukan Gerak Cepat). Sedangkan dua penerbang yang gugur di Tanjung Hantu namanya diabadikan menjadi  nama Pangkalan Udara yaitu Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma (dulu Tjililitan) dan Pangkalan Udara Iswahjudi (dulu Maospati).   

        Kemudian pemerintah Indonesia dan Belanda mengadakan perundingan di Den Haag yang dikenal dengan Konferensi Meja Bundar.Keputusan pada tanggal 23 Agustus 1949 ini, memaksa semua fasilitas penerbangan baik pesawat, pangkalan serta pendukungnya yang dimiliki AU Belanda (ML/Militaire Luchtvaart) diserahkan kepada AURI pada tahun 1950.

         Adanya penyerahan ini, memotivasi  AURI untuk membentuk beberapa skadron yang disesuaikan dengan jenis pesawat serta penggunaannya. Pada saat itu semua jenis pesawat yang ditempatkan di Pangkalan Udara Tjililitan (sek.Halim Perdanakusuma) dijadikan satu kesatuan dan diberi nama Skadron 1, sedangkan pesawat-pesawat yang ada di Pangkalan Udara Andir dilebur dalam Skadron 2. Hal ini berlaku sampai tahun 1951.    Kemudian pada tanggal 21 Maret 1951, dikeluarkanlah Surat Penetapan Kasau  Nomor : 2811/KS/1951 yang menyatakan bahwa group operasional terdiri dari  Skadron 1 (Pembom) pesawat B-25, Skadron 3 (Pemburu) pesawat P-51, Skadron 4 (Pengintai) pesawat Auster dan Piper L-4J, Skadron 5 (Angkut Operasional) pesawat C-47. Sedangkan di Pangkalan Udara Andir dibentuk Skadron II (Pengangkut) yang diberi nama DAUM (Dinas Angkutan Udara Militer) dan sekolah penerbang yang dilengkapi dengan berbagai jenis pesawat.

        Pada tanggal 23 April 1951, susunan tersebut diubah dengan Surat Penetapan Kasau Nomor : 28A/11/KS/1951 tentang pembentukan skadron udara, yaitu Skadron 1 Pembom pesawat B-25, Skadron 2 Angkut pesawat C-47 Dakota, Skadron 3 Pemburu pesawat P-51 Mustang “Cocor Merah”, Skadron 4 Intai Darat pesawat Auster, Skadron 5 Intai Laut pesawat PBY-54 Catalina versi amfibi.

Pembentukan Kohanudnas

     Permasalahan Irian Barat pada dekade 1950-1960  membuat diplomasi Indonesia dengan Belanda mengalami kebuntuan dan sikap antipati pemerintah Indonesia terhadap bangsa Barat yang mendukung aksi Belanda, mendorong untuk menjalin hubungan dengan negara Blok Timur, sehingga  pada era tersebut AURI banyak melaksanakan kontrak pembelian senjata ke negara Blok Timur. Hal ini bukan semata-mata kebijaksanaan pimpinan AURI namun kebijaksanaan pemerintah secara global, karena tekanan dari negara Barat, termasuk Australia yang lebih mendukung Belanda. 

       Pada pertengahan tahun 1950-an, Indonesia  sudah memiliki   30 pesawat jet MiG-15 UTI, yang tiba di Pangkalan Udara Kemayoran dari Cekozlovakia sejak tanggal 14 Agustus 1958.   Dua puluh dua  pesawat bomber IL-28 didatangkan  mulai tanggal 4 Oktober 1958 dari Rusia dan 49 pesawat MiG-17 datang pada awal tahun 1959 dari Cekozlovakia.    Saat itu, semua peralatan militer dibeli dari negara Blok Timur, termasuk pesawat angkut, Helikopter, dan Rudal pertahanan udara SA-75.Untuk pesawat angkut, AURI  membeli 21 IL-14 Avia untuk Skadron 17, dan 6 Antonov-12B untuk Skadron Udara 32. Kontrak pembelian Helikopter meliputi 41 helikopter Mi-4 untuk Skadron Udara 6 dan 9, serta Mi-6 angkut berat untuk Skadron Udara 8.

     Pada tahun 1961, berdasarkan Penetapan Men /Pangad No.10-190 thun 1961 dibentulah Komando Pertahanan Udara Angkatan Darat (Kohanudad) yang bertugas membina dan mengoperasikan unsur hanud AD. Demikian pula berdasarkan Keputusan Men/Pangal No.1301-26 tahun 1962 dibentuklah Koordinator Pertahanan Udara Angkatan Laut dan Keputusan Men/Pangau No.39 tahun 1963 tentang pembentukan Kohanud AU (Kohanud) pada tanggal 12 September 1963.

      Saat konfrontasi mulai memuncak pada awal tahun 1960-an, pemerintah masih merasa perlu untuk menambah kekuatan udara agar mampu menggetarkan pihak lawan.   Maka pada tahun 1962 didatangkan armada MiG-19 berjumlah 10 pesawat dan  MiG-21F dengan jumlah 24 pesawat.   Kekuatanpun semakin bertambah dahsyat dengan adanya pesawat bomber legendaris 26 Tu-16 B/KS pada tahun 1961.  Pada saat itu, Negara Indonesialah yang menjadi Negara pertama yang menggunakan pesawat itu selain Uni Sovyet sebagai Negara pembuat.   Sebenarnya pesawat MiG-19  kualitasnya kurang bagus, namun karena pemerintah Uni Soviet hanya mau memberikan MiG-21F bila pembelian dilakukan satu paket dengan pesawat MiG-19, maka dengan terpaksa MIG -19 dibawa serta ke Indonesia.

        Selain pesawat, AURI juga melaksanakan pembelian beberapa Radar untuk menjaga kedaulatan wilayah udara RI. Pelaksanaannya dengan cara Operasi Kresna untuk mencari radar-radar yang akan digunakan.  Kemudian didatangkanlah Radar Decca dari Inggris.  Periode instalasi radar Decca Plessy HF – 200 dan Decca Plessy Hidra dari Inggris tahun 1963 –1964 di Tanjung Kait dan Cisalak Kegiatan instalasi dilaksanakan oleh  ahli Inggris yang dibantu tenaga-tenaga ahli dari  AURI. Namun demikian kegiatan ini terhambat karena  konflik Indonesia – Malaysia, dimana Malaysia disponsori oleh Inggris.  Dengan konflik ini, maka pada awal tahun 1964 para teknisi Inggris ditarik pulang dan sebagian suku cadang tidak dilanjutkan pengirimannya, dan membuat penginstalasian radar terbengkalai.   Namun demikian beberapa radar yang sudah diinstalasi tetap dapat dioperasikan.

        Setelah kegagalan dari sebagian Operasi Kresna, maka AURI kembali berusaha untuk mendatangkan radar dari Blok Timur.  Maka dimulailah suatu periode instalasi Radar P-30 Rusia di Palembang dan Tanjung Pandan, Radar Nysa-C Polandia di Cengkareng, Cibalimbing dan Radar Decca Plessy LC di Palembang.

        Bila melihat kondisi perekonomian pada saat itu, sebenarnya pembelian persenjataan ini lebih bersifat prestisius.  Pesawat tempur supersonic  MiG-21F dan pesawat pembom jarak jauh Tu-16 B/KS adalah pesawat mahal dan terbaik pada masanya.  Kekuatan itu digunakan sebagai detterent power, kemampuan penghancurnya digunakan untuk mengancam pihak Belanda.

Komando Pertahanan Udara Gabungan

        Untuk mendukung Komando Mandala (Kola), semua unsur kekuatan udara dikonsentrasikan pada operasi tersebut, termasuk dengan dibentuknya Komando Pertahanan Udara Gabungan (Kohanudgab), yang merupakan  salah satu komponen dari Kola yang dibentuk pada bulan Maret 1962, dengan tugas mengamankan daerah tempur dan daerah komunikasi.  

        Unsur-unsur Kohanudgab terdiri dari komponen TNI AD, komponen TNI AL, komponen TNI AU, komponen Polri. Susunan organisasi Kohanudgab terdiri dari Panglima Kolonel Udara Leo Wattimena, Pelaksana Harian Panglima Letkol Udara Sujitno Sukirno, dan Wakil Panglima Mayor Art Eddy Muhammad Akhir.  Sedangkan Kohanudgab membawahi empat Air Defence Command (ADC) yaitu ADC I di Jakarta, ADC II di Surabaya, ADC III di Makassar dan ADC IV di Bitung.

      Tujuan dari Komando Pertahanan Udara Gabungan adalah melindungi pemusatan ofensif  di daerah Mandala (Indonesia Bagian Timur) dan objek-objek vital nasional yang tersebar di daerah lainnya yang berfungsi untuk mengantisipasi kemungkinan adanya serangan-serangan dari musuh. Oleh karena itu ditempatkanlah unsur-unsur Hanud di beberapa daerah pemusatan ofensif operasi Trikora di bagian Indonesia Timur yaitu di Morotai (MiG dan radar), di Bula-Seram (radar), di Saparua-Ambon (radar), di Amahai (MiG), di Letfuan (MiG), di Makassar (MiG).  Selain itu juga diadakan penempatan unsur-unsur hanud untuk pemusatan ofensif di Pulau Jawa yaitu di Jakarta (MiG, radar dan peluru kendali), di Surabaya (MiG dan radar), di Bandung (MiG), di Madiun (MiG) dan berbagai tempat lainnya di Jawa (radar).           

       Tugas Kohanudgab adalah menyelenggarakan pertahanan udara untuk mengamankan segala macam serangan udara terhadap operasi infiltrasi maupun guna menghadapi kemungkinan serangan terbuka di wilayah mandala. Dengan demikian pelaksanaan tugasnya adalah untuk mempertahankan keunggulan udara di atas pangkalan-pangkalan wilayah mandala, mengamankan pangkalan-pangkalan di daerah mandala jangan sampai dideteksi oleh musuh, menjaga garis dukungan logistik Angkatan Laut.

        Tugas pertahanan udara di wilayah mandala operasi Trikora menjadi tanggung jawab Kohanudgab.    Saat itu diperkirakan bahwa pada operasi terbuka, Belanda akan menyerang titik vital dari udara.    Daerah mandala yang akan diserang antara lain pangkalan-pangkalan, garis komunikasi, markas-markas komando, dan pusat pemerintahan. Untuk itu, AURI menggunakan beberapa pangkalan aju sebagai basis pertahanan udara untuk mengamankan wilayah mandala operasi, yaitu Lanud Morotai (pangkalan pesawat tempur), Lanud Amahai (pangkalan pesawat tempur), Lanud Letfuan (pangkalan pesawat tempur) dan Lanud Kendari (pangkalan pesawat tempur).    Kohanudgab juga membantu Angkatan Udara Mandala (Aula) untuk mengamankan depo-depo logistik kita yang terdapat di Lanud Ambon, Makassar dan Bitung, serta pengamanan garis dukungan logistik ALRI, yang berupa iring-iringan kapal dari daerah belakang ke daerah mandala.

      Panglima Kohanudgab sekaligus merangkap Panglima Angkatan Udara Mandala (Aula), sehingga karena kesibukannya maka wewenang Panglima Kohanudgab didelegasikan kepada Letkol Udara Sujitno Sukirno, yang sebelumnya telah menjabat sebagai Komandan Air Defence Command IV.   Panglima Kohanudgab Mandala membawahi dua Air Defence Command yaitu :

  1. ADC III membawahi tiga Sector Operation Center (SOC), yaitu :
  • SOC Sulawesi Utara berpusat di Bitung.
  • SOC Sulawesi Tenggara berpusat di Kendari.
  • SOC Nusa Tenggara berpusat di Kupang.

Setiap SOC membawahi tiga unsur, yaitu unsur pemberitaan dan pimpinan tempur (radar), unsur alat-alat udara, air defence dan kekuatan buru sergap serta unsur alat-alat darat.  ADC III berpusat di Makassar.  Selain ketiga SOC tersebut, ADC III juga diperkuat oleh satu batalyon artileri yang ikut menjadi kekuatan andalan saat itu.

     2.  ADC IV yang berpusat di Bitung membawahi tiga SOC, yaitu :

  • SOC Maluku Utara berpusat di Morotai dengan kekuatan satu batalyon.
  • SOC Maluku Tengah berpusat di Amahai dengan kekuatan satu batalyon.
  • SOC Maluku Tenggara berpusat di Letfuan dengan kekuatan satu batalyon.

ADC IV dipimpin oleh Letkol Udara Sujitno Sukirno.  SOC IV memiliki kekuatan tambahan berupa empat batalyon artileri. ADC IV adalah yang paling lengkap karena terdapat kesatuan-kesatuan pemberitaan dan pimpinan tempur, kesatuan-kesatuan buru sergap dan kesatuan-kesatuan artileri senjata udara.    Sedangkan ADC III hanya dilengkapi kesatuan artileri pertahanan udara. Kemampuan pertahanan udara kita dari ketiga Angkatan yang di kerahkan untuk  ADC IV Kohanudgab ada tiga unsur yaitu:

Unsur Pemberitaan dan Pimpinan Tempur (radar).   Di garis depan digelar empat unit radar yang diangkut dengan kapal LST (Landing Ship Tank) ALRI Unit radar ini dipimpin oleh Kapten Maman Suratman, dengan penempatan sebagai berikut :

- Satu unit ditempatkan di Saparua.

- Satu unit ditempatkan di Bula.

- Satu unit di Langgur, kemudian dipindah ke Letfuan.

- Satu unit di Amahai.

* Unsur alat-alat udara, air defence dan kekuatan buru sergap.   Unsur berada di satuan atau Lanud wilayah Indonesia Timur.

* Unsur alat-alat darat.

    Unit radar yang digunakan saat itu adalah jenis Nyssa buatan Polandia yang berfungsi sebagai Ground Control Interception (GCI) dan Early Warning dengan jarak 450 km.   Pemasangan unit radar di suatu era yang tradisional tersebut merupakan suatu permasalahan tersendiri, karena sulitnya untuk mengangkut satu unit radar yang beratnya sekitar 20 ton berpindah dalam jarak yang jauh.    Sebagai contoh adalah pemasangan unit radar di Sangwo.  Satu unit radar dari Morotai harus dipindah ke lokasi yang ditentukan melalui jalan darat, dimana ada tujuh buah sungai yang lebar dengan kedalaman sekitar dua meter.    Unit radar ditarik dengan trailer dan untuk menyeberangi sungai terpaksa harus dibuat sejenis rakit dari batang kelapa.   Bila trailer akan terbenam maka ia harus ditarik beramai-ramai dengan kendaraan dan bantuan tenaga rakyat.    Dan tak bisa disangsikan bahwa perjuangan rakyat dalam penggeseran peralatan radar cukup besar.   

     Unit radar yang paling strategis ditempatkan di Bula karena letaknya yang strategis dan berada di tengah-tengah mandala operasi.    Radar ini selain berfungsi untuk mendeteksi pesawat musuh (EW), juga untuk memandu pesawat kita (GCI).    Namun demikian keterbatasan-keterbatasan masih dimiliki oleh teknologi radar tersebut. Radar kita hanya bisa mendeteksi target pesawat yang terbang di atas ketinggian yang terbatas.  Kemampuan untuk mendeteksi di ketinggian  rendah masih kurang baik, oleh karena itu  agar unit radar dapat memberikan panduan, pesawat harus terbang tinggi dan baru turun di sasaran tembak.  

      Dalam konflik di Irian Barat, Radar Nyssa sangat membantu dalam pelaksanaan operasi udara.   Beberapa kali unit radar ini menginformasikan kepada pesawat kita, bahwa mereka sedang diintai pesawat musuh.

Operasi Pembebasan Irian Barat

     Setelah dibentuk, Kohanudgab memiliki peran yang besar dalam rangka pembebasan Irian Barat.   Kohanudnas sendiri telah terbentuk sejak tanggal 9 Februari 1962, namun untuk merebut Irian Barat maka unsur Kohanudnas tergabung dalam Komando Pertahanan Udara Gabungan Mandala (Kohanudgabla) yang berada di bawah Komando Operasi Mandala (Kola), yang dibentuk pada tanggal 2 Januari 1962 dengan Panglima AU Mandala Kolonel Udara Leo Wattimena (naik menjadi Komodor Udara).

      Tugas Kohanudgab dalam operasi Trikora adalah merencanakan, mempersiapkan dan menyelenggarakan operasi-operasi militer dengan tujuan mengembalikan wilayah Irian Barat ke dalam kekuasaan Negara Republik Indonesia, dan mengembangkan situasi militer di wilayah Irian Barat sesuai militer di wilayah Irian Barat sesuai dengan taraf perjuangan di bidang diplomasi, agar dalam waktu sesingkat-singkatnya di wilayah Irian Barat secara de facto dapat diciptakan daerah bebas atau dapat didudukan unsur-unsur kekuasaan pemerintah daerah Republik Indonesia.

      Ada 4 unit Radar yang ditempatkan di Wilayah ADC II Kohanudgab yaitu 1 unit radar EW berada di Morotai, 1 unit radar EW berada di Ambon, 1 unit radar GCI/EW di Bula dan 1 unit radar EW berada di Langgur (pindah ke Letfuan) Di antara 4 unit radar,  yang paling efektif dalam operasional adalah  adalah  radar di Bula dipimpinan Mayor Udara Aried Riyadi.  Radar ini terletak di sebelah Timur Pulau Seram dan ditengah mandala operasi.

       Dalam Kola, unsur rudal belum dilibatkan, namun beberapa senjata banyak berperan untuk melindungi pasukan sendiri, mulai dari PSU (Penangkis Serangan Udara) dari AURI maupun ALRI, sampai dengan ARSU (Artileri Sasaran Udara).  Di bawah kendali PSU sebanyak 3 batalyon, dan ARSU sebanyak 4 batalyon.  Batalyon-batalyon ARSU tersebut adalah Batalyon Pattimura (tersebar di sekitar Pangkalan Udara di Morotai), Batalyon Amahai, Batalyon Laha dan Batalyon Letfuan.  Senjata yang dimiliki berupa tripple gun kaliber 30 mm buatan Oerlikon di Swiss.

       Kohanudgab mengandalkan kekuatan KRI yang berada di Pulau Plang, Bitung dan Ambon.  Mandala operasi laut berada di Laut Arafuru. ALRI mengerahkan beberapa jenis kapal cepat roket (fast rocket ship) sebanyak 12 kapal buatan Rusia, kapal anti kapal selam (sub chaser) buatan Yugoslavia, kemudian 4 kapal motor terpedo boat (MTB) ditambah 3 kapal LST (landing ship tank).  Kapal-kapal tersebut beroperasi di daerah Dobo, Pulau Ujir, Pulau Kasir di Kepulauan Aru dan Tanjung Weda - Kepulauan Kei.   Selama kegiatan operasi pangkalan kapal  berada di Halong, Ambon, kemudian kekuatan Udara TNI AL berada di bagian Utara Pulau Ambon dengan 6 Pesawat Gannet dan 2 Pesawat Albatross.  Pada saat itu, tidak semua  KRI dilengkapi radar pertahanan udara, beberapa KRI hanya memiliki persenjataan meriam anti serangan udara. Selain itu, kekuatan KRI ini tidak dapat dimanfaatkan sebagai gap filler (pengisi celah kosong) bagi radar pertahanan udara.  Sedang pesawat Gannet dan Albatross berfungsi untuk pengamanan KRI dan jalur pelayarannya.

        Angkatan Udara Belanda (Militaire Luchtvaart) berusaha mempertahankan penjajahan di bumi Irian Barat, dan berpusat di Biak.  Pada April 1960,  Belanda semakin meningkatkan kekuatannya dengan menghadirkan kapal induk “Karel Doorman” untuk memperkuat Detasemen AU Belanda (Zcommando Luchtverdediging Nederlauds Nieuw/CLUNNG). Komposisi kekuatannya adalah 12 pesawat tempur Neptune P2V-7, 6 pesawat helicopter, 4 pesawat Dakota C-47, 2 unit radar Type 15 MK-IV (Early Warning). Dua Radar tersebut berada di Pulau Numfor Biak dan Pulau Raja Zumpat - Sorong.  Radar EW dengan jarak jangkau 200 NM penempatannya telah dipersiapkan sejak tahun 1954. Sedang kekuatan pesawat buru sergap berada di Sorong, dengan wilayah patroli sepanjang garis pantai Selatan Irian Barat dan Sorong Fakfak-Kaimana hingga Merauke. Sedangkan wilayah operasi pertahanan udara berada di pantai Utara Irian Barat dari Sorong – Manukwari – Biak dan Jayapura.  Selain 2 unit radar darat di atas, Belanda juga telah memasang sebuah Radar di Pulau Wundi dan diperkuat dengan Radar kapal perang.   Hanud Kohanudgabla juga diperkuat dengan pesawat pembom strategis Tu-16 yang mampu menjangkau pusat konsentrasi kekuatan tempur Belanda yang berada di Biak.  Pada operasi Trikora ini keunggulan udara berada di pihak Indonesia.

Lahirnya Kohanudnas

       Mengingat perlu dan sangat mendesaknya suatu kesatuan Komando pengendalian tunggal dalam operasi pertahanan udara, sebagaimana telah dibuktikan oleh keberhasilan  Kohanudgab dalam kampanye  Trikora, para pimpinan Kohanud Angkatan dan Kohanudgab beserta Men/Pangau selalu mengadakan pertemuan-pertemuan dan rapat-rapat kusus  untuk membuat suatu rencana agar adanya suatu pengendalian tunggal dari pada operasi pertahanan udara tersebut. Pada tanggal         2 Januari 1962 Men/KSAU Laksamana Udara S.Suryadharma berdasarkan Keputusan Men/KSAU No.086 menetapkan Pembentukan Kesatuan ”Wing Persiapan Kesatuan-Kesatuan Peluru Kendali”, dengan kedudukan di Pangkalan Udara Kalijati.

       Perjuangan merebut Irian Barat menjadi alasan untuk membentuk sebuah Komando petahanan Udara Nasional, sehingga 9 Februari 1962 Presiden selaku Panglima Tertinggi Angkatan Perang  Republik Indonesia/ Panglima Besar Komando tertinggi Pembebasan Irian Barat, mengeluarkan Kepres Nomor : 8/PLM. Ps. Tahun 1962 tentang pembentukan Komando Pertahanan Udara Nasional yang disingkat dengan (Kohanudnas). Berdasarkan Trikomando Rakyat tanggal 19 Desember 1961 dan Pasal 10 UUD RI. Ditentukan Kohanudnas berada dibawah pimpinan Kepala Staf Angkatan Udara atau pejabat yang ditunjuk olehnya. Komando Pertahanan Udara Nasional secara operasional membawahi komando-komando pertahanan udara yang ada di tiap-tiap Angkatan dengan pengertian, alat-alat pertahanan udara yang telah ada di wilayah dan pada satuan-satuan Angkatan Darat, Angkatan Laut, dan Angkatan Udara, secara organisasi, administrasi dan taktis tetap di bawah masing-masing Kepala Staf Angkatan masing-masing. Sedangkan karena secara mendadak terjadi pergantian kepemimpinan AURI tindaklanjut pembentukan Kohanudnas sempat terhenti dan baru berjalan setelah Susunan dan Tugas Kohanudnas  ditetapkan setelah enam bulan kemudian dengan turunnya Kepres/Pangti AP No. 256/ PLT tahun 1962 pada tanggal 26 Juli 1962.  Pada saat pembentukan Kohanudnas  posisi Menteri/ KSAU masih dijabat oleh Laksamana Udara Suryadi Suryadarma. Tak lama berselang beliau mengundurkan diri dari jabatan KSAU karena keberatan TNI AU disalahkan TNI AL akibat peristiwa ”Tragedi Laut Aru” saat kampanye ”Trikora” baru dimulai dan Komando Gabungan belum efektif.

     Awalnya Kohanudnas bermarkas di Jalan Tanah Abang Bukit  - Jakarta, lalu pindah ke  Lanud Halim Perdanakusuma sampai dengan sekarang. Pada saat terbentuknya Kohanudnas terjadi  peristiwa nasional ”Tragedi Laut Aru” dimana Kapal Torpedo TNI AL Macan Tutul tenggelam karena tembakan kapal Destroyer Belanda. Pada saat kejadian, TNI AU tidak diberitahu misi tersebut, sehingga tidak memberi air  cover”dari udara.  Kemudian Men/KSAU Laksamana Udara  S. Suryadarma mengundurkan diri dan digantikan oleh Laksamana Muda Omar Dhani.

  Kasau baru mengeluarkan serangkaian keputusan untuk meneruskan program pembentukanKohanudnas.Diantaranya Keputusan Menteri/KSAU No.113 tanggal  2 Maret 1962 tentang Tugas dan Susunan Organisasi Skadron Peluru Kendali untuk menindak lanjuti Keputusan Men/KSAU terdahulu dengan menentukan Tugas Pokok dari Squadron Peluru kendali (SPELKEN) dimana Komandan Spelken secara taktis administratif berada dibawah Panglima Komando Regional Udara. Namun secara teknis bertanggungjawab pada Komandan Wing Persiapan Kesatuan-Kesatuan Peluru Kendali. Selanjutnya dikeluarkan Surat Keputusan Kepala Staf/Pangau No.902 tanggal 12 Mei 1962 tentang Penggunaan dan Perawatan Radar yang telah diserahkan Kepada AURI.    Pada Skep tersebut dinyatakan bahwa radar-radar proyek ”Kresna” perlu dirawat dan dioperasikan oleh AURI.   Ketika itu, penempatan radar di Jakarta dan Jawa Barat dibawah Wing Operasi 001 Halim Perdanakusuma.  Radar-radar di Jawa Tengah dibawah Wing Pendidikan  No.1 Adisucipto dan Radar-radar di Jawa Timur dibawah Wing Operasi 002 Abdulrachman Saleh.

      Selama enam Bulan Kohanudnas belum beroperasi meskipun sudah dibentuk pada tanggal 9 Februari 1963, sehingga pada tanggal 26 Juli 1962 Presiden mengeluarkan Keputusan Presiden/Pangti APRI No.256/PLT. Tentang Susunan dan Tugas Komando Pertahanan Udara Nasional. Dalam Keputusan itu memuat antara lain :

  • Kedudukan Kohanudnas langsung dibawah Panglima Angkatan Udara RI.
  • Kohanudnas secara taktis membawahi Kohanud Daerah.
  • Pangkohanudnas bertanggung jawab pada Panglima AURI.
  • Pangkohanudnas dibantu Wapang I dari Angkatan Darat dan Wapang II dari  Angkatan Laut, dengan suatu Staf Gabungan yang dipimpin seorang Kastaf.
  • Kohanud daerah membawahi beberapa Sektor Pertahanan Udara.
  • Sektor-Sektor Hanud membawahi unsur-unsur pertahanan udara dan dibantu perwakilan keempat angkatan dan unsur pertahanan sipil.

      Selanjutnya ditunjuklah Panglima Kohanudnas pertama yaitu Laksamana Muda Udara H.M. Soedjono yang menjabat dari tahun 1962 s/d 1966.    Wapang I Kohanudnas Mayjen TNI Askari, Wapang II Kohanudnas Laksamana Muda Laut O.B. Sjaaf, dan kemudian diganti oleh Mayjen KKO Suhadi. Menteri/KSAU Laksamana Udara Omar Dani kemudian mengeluarkan Kep Men/KSAU No.136 tanggal 21 Agustus 1962 tentang Pembentukan Kesatuan pendidikan No.09 (Sekolah peluru Kendali) yang menetapkan Kesatuan Pendidikan No.009 adalah Sekolah Peluru Kendali yang menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan khusus bagi personel kesatuan rudal dan betempat di Lanud Kalijati.

    Dengan semakin bertambah kemungkinan-kemungkinan ancaman yang dihadapi maka semakin luasnya tugas dan tanggung jawabnya, sehingga dianggap perlu adanya jaminan bahwa kekuatan pertahanan udara setiap saat dapat berkembang menjadi besar melalui prosedur yang efektif dan berlandaskan hukum.  Oleh karena itu, dipandang perlu meningkatkan unsur-unsur pertahanan udara Angkatan, dengan membentuk Komando Utama sebagai Komado Fungsional yang bertugas membina komponen hanud di tiap Angkatan.  Unsur Hanud AD ditingkatkan menjadi Kohanud AD, unsur Hanud AL ditingkatkan menjadi Kohanud AL.   Unsur Hanud AURI juga tidak langsung di bawah Kohanudnas karena secara organisasi Kohanudnas tidak berada dibawah Mabes AURI, sehingga akhirnya dibentuklah Kohanud AU dengan singkatan Kohanud.

      Kohanud dibentuk dengan SK Men/Pangau No.39 tahun 1963 tanggal 12 September 1963 dengan tugas membina, mengembangkan dan menyelenggarakan kesiapan tempur seluruh unsur pertahanan udara AURI denagn penggunaan operasi dibawah kendali Kohanudnas. Kohanud bermarkas besar di Lanuma Halim Perdanakusuma denan membawahkan empat Wing Pertahanan Udara. Terdiri dari WPU-100 Peluru Kendali, WPU-200 Radar, WPU-300 Pemburu Sergap dan WPU 400 Radar.

    Sesuai dengan perkembangan sistem persenjataan ABRI (sek. TNI) dan perkembangan teknologi, selanjutnya unsur-unsur pertahanan udara dari Angkatan yang merupakan komponen dari pada Kohanudnas tersebut, telah diperlengkapi dengan alat-peralatan serta persenjataan yang modern untuk mengimbangi kemajuan dalam sistem pertahanan udara nasional.  Sementara itu satuan-satuan pancargas MiG-15/17/21, satuan-satuan radar dan peluru kendali darat udara sebagai unsur Hanud AURI menjadi salah satu komponen utama dalam Kohanudnas dan merupakan kekuatan penyangga untuk Kohanudnas dalam mencegah dan melindungi daerah vital nasional kita dalam rangka menghadapi Operasi Dwikora, dengan dislokasi yaitu di daerah Sumatra kekuatan dengan pesawat MiG-15/17/21 ditambah dengan radar-radar, di daerah Jawa dengan pesawat MiG-15/17/19/21 ditambah radar dan peluru kendali, dan di daerah Kalimantan dengan pesawat  MiG-17 ditambah radar-radar.

 

 

Gallery Video
Login User
Galeri Foto
Pusdiklathanudnas merupakan satuan pelaksana pendidikan dan latihan dari Kohanudnas dalam menyelenggarakan pendidikan dan pelatihan personel organic maupun non organic yang berkedudukan langsung dibawah Panglima Kohanudnas. Pusdiklat Hanudnas bertugas menyelenggarakan pendidikan dan latihan spesialisasi sishanudnas bagi personel organik maupun non organik yang dipersiapkan untuk ... Selengkapnya